Susukan dalam Perspektif sejarah :
Dari peradaban awal hingga era kemerdekaan
Rangkuman Sejarah Desa Susukan Kecamatan Cipicung Kabupaten Kuningan
Pendahuluan
Desa merupakan unit sosial dan administatif terkecil yang memiliki peran strategis dalam membentuk struktur kehidupan masyarakat indonesia. Dalam Perspektif Historiografi modern, desa tidak lagi dipandang sekedar objek kebijakan melainkan sebagai subjek sejarah yang aktif dalam membentuk dinamika sosial, budaya, dan ekonomi (Kartodirdjo, 1992). Oleh karena itu, kajian sejarah desa menjadi penting untuk memahami bagaimana masyarakat lokal mengalami, merespons, dan membentuk perubahan sejarah dalam konteks yang lebih luas. Desa Susukan, yang terletak di Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan, merupakan salah satu contoh desa yang memiliki jejak perjalanan sejarah yang sangat panjang dan kompleks.
Penulisan sejarah Desa Susukan ini dilakukan berdasarkan penelusuran dan penelitian yang dilandasi dengan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan metode sejarah, antropologi, dan arkeologi. Pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika masyarakat Desa Susukan dari masa ke masa. Sumber yang digunakan meliputi catatan arsip kolonial, dokumen administratif pemerintahan, tradisi lisan, serta peninggalan arkeologis yang tersebar di sejumlah titik wilayah desa. Dengan memadukan berbagai sumber tersebut, rekonstruksi sejarah yang dihasilkan menjadi lebih utuh dan tidak terjebak hanya pada satu perspektif tunggal.
Kajian ini mencakup rentang waktu yang panjang, mulai dari fase awal pembentukan permukiman di Susukan yang kemungkinan telah terjadi sejak masa pra-Islam hingga era modern. Periodisasi ini penting untuk menunjukkan kesinambungan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Susukan. Setiap fase sejarah tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan membentuk identitas kolektif masyarakat desa . Dengan demikian, sejarah Desa Susukan dapat dipahami sebagai proses dinamis yang terus berkembang karena melakukan adaptasi terhadap perubahan dan tantangan zaman.
Awal Mula Permukiman dan Perkembangan Awal
Sejarah awal Desa Susukan berkaitan erat dengan keberadaan kawasan Sendang Cikabuyutan yang dipercaya sebagai titik awal terbentuknya permukiman masyarakat. Lokasi ini memiliki karakter geografis yang mendukung kehidupan manusia, terutama karena keberadaan sumber air yang melimpah. Dalam banyak peradaban, air merupakan faktor utama yang menentukan keberlangsungan kehidupan manusia (Trigger, 2006). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika permukiman awal masyarakat Susukan berkembang di sekitar sumber air tersebut.
Gambar 1 : Batu Cupu yang merupakan peninggalan masa pra-islam di Susukan
Sumber : Dokumentasi Peneliti (2025)
Pada masa awal, masyarakat Susukan hidup dengan pola kehidupan yang sederhana dan sangat bergantung pada kondisi alam. Mata pencaharian utama mereka adalah bertani dan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitarnya. Pola permukiman yang terbentuk cenderungmengikuti kondisi geografis, seperti aliran sungai Cisande atau Ciberes, dan hamparan kontur tanah. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Susukan, sejak awal telah memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap lingkungan alam di sekitarnya.
Selain situs petirtaan tersebut, keberadaan artefak arkeologis seperti Batu Yoni dan batu-batu besar di lingkaran terdekat Situs Batu Cupu menunjukkan sisi lain kehidupan manusia pada masa pra-Islam. Eksistensi bebatuan dan Batu Yoni di lingkaran areal Batu Cupu menunjukkan bahwa masyarakat awal Susukan telah memiliki sistem kepercayaan yang terasimilasi sejak masa yang kuna. Artefak tersebut tidak hanya berfungsi sebagai benda fisik, tetapi juga memiliki makna simbolik dalam kehidupan masyarakat, yang menurut kajian arkeologi, sering kali digunakan untuk memahami praktik budaya dan kepercayaan masyarakat masa lalu, yang bercorak animisme dan juga Hindu.
Lapisan budaya pra-Islam Sunda juga tampak dalam sejarah tradisi lisan Desa Susukan yang merefleksikan kompleksitas suatu sistem kepercayaan dan integrasi antara manusia, alam, serta dunia gaib. Salah satu elemen paling mendasar adalah konsep kabuyutan, yaitu ruang sakral yang berfungsi sebagai pusat spiritual dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam tradisi Sunda kuno, kabuyutan tidak hanya dipahami sebagai lokasi geografis, tetapi juga sebagai poros kosmologis yang menghubungkan manusia dengan kekuatan adikodrati. Keberadaan kabuyutan di sana menunjukkan bahwa wilayah ini sejak awal telah berada dalam orbit religius lokal yang bercorak animistik dan dinamistik.
Selain itu, kepercayaan terhadap makhluk halus seperti jin dan roh penjaga alam memperlihatkan bahwa masyarakat pra-Islam Sunda memandang alam sebagai entitas hidup yang memiliki kehendak dan kekuatan. Relasi antara manusia dan dunia gaib terlihat bersifat timbal balik, di mana individu dengan kemampuan spiritual, seperti tokoh Gajah Manggala, dapat berinteraksi dan bahkan memobilisasi kekuatan tersebut. Praktik tapa atau semadi yang dilakukan di gunung semakin menegaskan adanya tradisi asketisme, yaitu upaya mendekatkan diri kepada kekuatan kosmis melalui pengendalian diri dan meditasi.
Simbolisme air dalam legenda asal-usul susukan juga mencerminkan pentingnya unsur kesuburan dalam kehidupan masyarakat agraris. Dalam konteks ini, muncul pula simbol-simbol seksual yang berkaitan dengan penciptaan dan regenerasi, yang lazim ditemukan dalam sistem kepercayaan berbasis kesuburan. Figur perempuan seperti Nyai Putri Dewi Candra Wulan memperkuat dimensi ini sebagai representasi kekuatan feminin yangterkait dengan alamdankehidupan. Dengan demikian, lapisan budaya pra-Islam Sunda di Susukan menunjukkan kesinambungan antara mitos, ritual, dan kosmologi yang membentuk identitas budaya lokal sebelum masuknya pengaruh agama-agama besar.
Masa Islamisasi dan Transformasi Sosial
Masuknya Islam ke wilayah Cirebon dan Kuningan membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat Susukan. Proses Islamisasi tidak hanya mengubah sistem kepercayaan, tetapi juga memengaruhi struktur sosial dan budaya masyarakat. Islam diperkenalkan oleh para penguasa pesisir Jawa dan kemudian menyebar ke wilayah pedalaman, termasuk Susukan. Dalam proses ini, masyarakat Susukan tidak serta-merta meninggalkan kepercayaan lama, melainkan melakukan proses adaptasi dan sinkretisme. Nilai-nilai Islam diintegrasikan dengan tradisi lokal yang mencerminkan karakter adaptif masyarakat Sunda dan senantiasa terbuka terhadap perubahan budaya.
Sayangnya, keterbatasan sumber sejarah yang tersedia menyebabkan sulitnya menelusuri secara pasti siapa tokoh utama yang berperan sebagai pelopor Islamisasi awal di wilayah Susukan pada masa Walisongo, khususnya dalam konteks dakwah Sunan Gunungjati atau Syarif Hidayatullah. Narasi yang berkembang justru lebih banyak merujuk pada periode yang lebih kemudian, ketika Islam telah relatif mapan dalam struktur masyarakat. Dalam konteks ini,keberadaan Tumenggung Jayadipura yang disebut sebagai keturunan ketujuh Sunan Gunungjati menunjukkan adanya kesinambungan genealogis sekaligus legitimasi kekuasaan berbasis Islam. Selain itu, figur Mbah Buyut Sidik juga muncul sebagai ulama lokal yang berpengaruh pada abad ke-18 M, menandakan fase penguatan institusi keagamaan di tingkat desa.
Seiring dengan proses tersebut, struktur sosial masyarakat Susukan mengalamitransformasiyangsignifikan. Kehadiranulama dan kyai tidak hanya memperkenalkan ajaran Islam, tetapi juga membentuk tatanan sosial baru yang lebih terorganisasi. Mereka berfungsi sebagai pemimpin spiritual, pendidik, sekaligus penengah dalam berbagai persoalan sosial. Dengan demikian, Islam berkembang tidak hanya sebagai sistem kepercayaan, melainkan juga sebagai kerangka nilai yang mengatur kehidupan sosial, budaya, dan moral masyarakat secara menyeluruh.
Masa Kolonial dan Integrasi ke dalam Sistem Global
Pada masa kolonial, Desa Susukan mengalami perubahan besar akibat masuknya kekuasaan asing, terutama VOC, pemerintah Hindia Belanda, dan pemerintah militer Jepang. Desa ini, yang sebelumnya dikenal dengan nama Palembang Girang, memiliki posisi strategis dalam jaringan ekonomi kolonial. Lokasinya yang dekat dengan jalur perdagangan dan sumber pengairan menjadikannya sebagai titik yang sangat strategis dan sentral bagi pengumpulan hasil bumi, seperti padi, rempah-rempah, dan hasil perkebunan. Selain itu, lokasi ini juga mempermudah pemindahan hasil bumi wilayah pedalaman menuju wilayah pesisir melalui transportasi alur sungai.
Pada masa awal VOC ini, pemimpin Susukan yang hidup sezaman dengan Tumenggung Jayadipura adalah Wangsha Aria yang notabene merupakan penyeimbang kekuasaan dan harmoni di antara masyarakat Susukan dan Kepangeranan Gebang yang sejak tahun 1689 menjadi protekorat Kompeni. Pada perkembangannya, integrasi ke dalam sistem kolonial juga membawa dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat Susukan karena mereka dipaksa untuk menanam komoditas ekspor dan memenuhi berbagai kewajiban yang dibebankan oleh pemerintah kolonial melalui tangan penguasa lokal.
Tradisi lisan memuat informasi bahwa pada awal tahun 1800an Susukan dipimpin oleh pemimpin legendaris yang disebut sebagai Wasta Renggana. Dalam konteks ini, pemimpin Susukan ini telah berperan sebagai penghubung diplomatis antara masyarakat dan penguasa kolonial. Kala itu, pemimpin masyarakat harus memastikan bahwa warga yang dikelolanya harus memenuhi kewajiban tersebut, sekaligus menjaga stabilitas sosial di desa, di samping melakukan filterisasi terhadap pelbagai beban kebijakan yang diberikan oleh pemerintahan kolonial Belanda. Nasib masyarakat Susukan tidak mengalami perbaikan yang berarti ketika kekuasaan Pendudukan Jepang di Indonesia berhasil menggantikan pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Berdasarkan kesaksian para sesepuh, periode ini justru dikenang sebagai masa paling mencekam karena menghadirkan penderitaan yang lebih nyata dan langsung dirasakan rakyat. Kebijakan militer Jepang yang berorientasi pada kepentingan Perang Asia Timur Raya memaksa masyarakat terlibat dalam berbagai bentuk eksploitasi, seperti romusha, kerja paksa, perampasan harta, serta kewajiban menanam tanaman strategis demi kebutuhan perang, sehingga memperparah kondisi sosial ek ekonomi lokal masyarakat.
Meskipun berada dalam posisi subordinat, masyarakat Susukan menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi. Mereka mengembangkanstrategiuntuk memenuhituntutankolonial tanpa sepenuhnya kehilangan identitas lokal. Interaksi dengan sistem kolonial juga membawa perubahan dalam sistem administrasi dan produksi desa, yang menjadi lebih terorganisir dan sistematis. Pasca Kuwu Wasta Renggana, Susukan dipimpin oleh beberapa kuwu, yaitu: Kuwu Jasri (1898-1906), Kuwu Singa Santana (1906-1916), Kuwu Suwita (1916-1925), Kuwu Ahim (1925-1927), Kuwu Mas Praja (1927-1936), dan Kuwu Gusra S. Perwata (1936-1960).
Masa Kemerdekaan dan Perubahan Sosial
Memasuki masa kemerdekaan, masyarakat Susukan mengalami perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan menjadi bagian penting dari sejarah desa, yang ditandai dengan adanya pertumbuhan spirit kemandirian dan perjuangan masyarakat Susukan. Setelah berhasil melewati masa perlawanan kolonial dan disintegrasi, masyarakat Susukan hidup sebagai kelompok sosial yang adaptif sehingga bisa melahirkan generasi kuat yang tahan terhadap pelbagai macam terpaan dan cobaan kehidupan.
Pada masa Orde Lama dan Orde Baru, Desa Susukan mengalami berbagai kebijakan pembangunan yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Program-program pemerintah yang berfokus pada pembangunan ekonomi dan infrastruktur membawa perubahan dalam pola kehidupan masyarakat. Namun, perubahan tersebut juga menimbulkan tantangan baru, terutama dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya lokal.Seluruh kemajuan pada kedua masa tersebut berhasil dilakukan berkat kepemimpinan dan pengorbanan yang optimal diberikan oleh Kuwu R. Gusra Sastra Perwata, Kuwu Sualim, Kuwu Samad, Kuwu Tahid, dan Kuwu Ibun Ruhyono.
Pada masa Reformasi, masyarakat Susukan mulai memiliki ruang yang lebih besar untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan. Otonomi daerah memberikan kesempatan bagi pemerintah desa untuk mengelola sumber daya secara lebih mandiri. Hal ini membuka peluang bagi pengembangan potensi lokal yang berbasis pada kearifan budaya masyarakat. Dalam kurun waktu ini, Kuwu Maryono, Kuwu Ili Sadeli, Kuwu Rusman Wijaya, dan Kuwu Toto Ciptarasa, saling bahu-membahu mengupayakan masyarakat Susukan yang lebih maju dan modern.
Era Kontemporer dan Kesadaran Sejarah Lokal
Dalam era kontemporer, Desa Susukan menghadapi tantangan globalisasi danmodernisasi yangmemengaruhistruktur sosial masyarakat.Perkembangan teknologi dan mobilitas penduduk membawa perubahan dalam pola kehidupan masyarakat. Namun, di tengah perubahan tersebut, kesadaran akan pentingnya sejarah lokal semakin meningkat. Upaya penulisan sejarah desa merupakan langkah penting dalam melestarikan warisan sejarah. Penelitian ini melibatkan berbagai pihak, yang berkontribusidalam bentuk informasi dan tradisi lisan.
Kesadaran sejarah tidak hanya berfungsi sebagai upaya pelestarian masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi bagi pembangunan masa depan. Dengan memahami sejarah, masyarakat dapat memperkuat identitas kolektif dan menghadapi tantangan zaman dengan lebih percaya diri. Lagipula, sejarah Susukan menunjukkan bahwa desa bukanlah entitas statis, melainkan ruang dinamis yang terus mengalami perubahan. Dari masa awal permukiman hingga era modern, masyarakat Susukan menunjukkan kemampuan adaptif terhadap berbagai perubahan.
Pada akhirnya, sejarah Desa Susukan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa kini dan masa depan. Dengan menjaga dan memahami warisan sejarah, masyarakat dapat membangun identitas yang kuat dan berkelanjutan. Sejarah menjadi bukan sekadar cerita, tetapi juga fondasi bagi pembangunan sosial dan budaya yang lebih baik. Adapun tanggal 19 Juni 1686 yang disepakati dalam musyawarah desa sebagai hari milang kala Susukan, merupakan wujud konkret dari perpaduan yang simetris antara pendekatan historiografi akademis nan ilmiah dan rekonstruksi sejarah lokal yang partisipatif.


